Langsung ke konten utama

Hadirmu di Dunia Mengubah Statusku Menjadi Seorang Ibu







Perjuangan menjadi seorang Ibu bagiku dimulai ketika pertama kali aku mengetahui ada janin di dalam rahimku. Tepat setelah 2 Minggu menikah, aku dinyatakan hamil oleh dokter. Hamil adalah kebahagiaan bagiku dan juga keluargaku. Saat trisemester pertama mengandungnya, aku mengalami beberapa keluhan kehamilan seperti mual dan muntah sehingga membuatku drop. Saat itu juga bertepatan dengan bulan puasa di tahun 2016 dan aku pun harus membatalkan puasaku saat itu karena keluhan kehamilan tersebut. Beberapa kali juga aku pun harus ijin untuk tidak masuk kerja karena kondisi saat itu yang tidak memungkinkan. Namun, semua keluhan tersebut hilang seiring semakin besarnya usia kandunganku. Melihat hasil usgnya, merasakan tendangannya, membuatku semakin tidak sabar bertemu dengannya. Demi kelancaran proses kelahiran nanti banyak hal yang aku persiapkan. Aku mulai rajin berolahraga, makan makan bergizi dan mengikut kelas hamil. Saat itu Hari Perkiraan Lahir (HPL) menurut dokter adalah tanggal 26 Januari 2017. Namun, Saat Hari Perkiraan Lahir (HPL) tiba aku belum juga merasakan ada tanda-tanda akan melahirkan. Dokter pun memberikan waktu 2 Minggu lagi untuk menunggu adanya tanda-tanda melahirkan tersebut. Namun jika sampai tanggal 7 Februari 2017 masih belum ada tanda-tanda melahirkan, maka dokter akan melakukan proses induksi. Aku memang berencana untuk melahirkan secara normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter saat itu, kondisiku memang menunjang untuk melahirkan secara normal.

Saat itu di awal bulan Februari 2017, aku berbisik kepada bayi di dalam perutku. 'Sayang ayo tunjukkan tanda-tanda kalau kamu mau keluar, Mam sudah tidak sabar ingin melihatmu, memelukmu dan menciummu. Kamu mau keluar kapan? Kalau Mam boleh kasih saran di hari Sabtu atau Minggu ini saja sayang. Sabtu atau Minggu kan Pap selalu ada di rumah jadi Pap bisa selalu menemani Mam saat kamu akan lahir'. Akhirnya Sabtu, 4 Februari 2017 siang ketuban pecah dan kondisi saat itu masih di rumah saat aku dan suamiku selesai makan siang. Kami hanya berdua di rumah dan sempat panik ketika keadaan tersebut. Suamiku langsung mengajakku untuk berangkat ke Rumah Sakit. Untungnya perlengkapan persalinan sudah aku siapkan jauh-jauh hari dan tinggal dibawa saat akan berangkat ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, air ketubanku terus mengalir. Di perjalanan aku pun menginformasikan keluargaku mengenai kondisiku saat itu dan meminta keluargaku untuk segera datang ke Rumah Sakit juga. Sesampainya di Rumah Sakit ternyata belum ada pembukaan padahal air ketuban terus mengalir. Dokter mengintruksikan untuk menunggu pembukaan sampai sore dan jika belum ada pembukaan juga maka akan dilakukan tindakan operasi secar. Aku pun mulai tegang mendengar intruksi dokter tersebut. Namun ada hal lucu di hari itu yang tidak akan pernah kulupakan. Suamiku ternyata masih menggunakan sarung saat mengantarkanku ke rumah sakit dan dia pun tidak menyadarinya. Aku  memberitahukannya dan kami pun menertawakan hal konyol tersebut. Dia pun langsung mengganti sarungnya dengan celana panjang yang ada di dalam tas perlengkapan persalinan.

Sorenya perawat memeriksaku lagi dan kemudiaan aku dipasangkan oksigen karena berdasarkan hasil pemeriksaan, detak jatung bayiku mulai melemah. Aku harus bernapas secara teratur dan tidak boleh stress. Keluargaku terutama Mamaku sangat memberikan dukungan kepadaku untuk tidak perlu stress dan harus banyak berdoa untuk kelancaran proses persalinan nanti. Ma, sekarang aku merasakan juga apa yang dulu pernah Engkau rasakan saat mengandungku dan melahirkanku. Pengorbananmu sangatlah luar biasa, cintamu adalah inpirasiku. Mulai sore itu aku pun harus puasa karena operasi secar dijadwalkan pada malam harinya pukul 20.00 WIB. Aku dan keluargaku ikhlas jika operasi secar adalah jalan terbaik untukku melahirkan. Sangat beresiko memang jika harus memaksakan untuk dapat melahirkan normal dengan kondisi seperti itu. Sebenarnya aku sangat khawatir ketika akan memasuki ruang operasi. Suami dan keluargaku menunggu di luar, tidak ada yang diijinkan masuk ke ruang operasi untuk menemaniku. Ketika sampai di ruangan operasi, aku merasa sangat kedinginan. Dokter menyuntikkan obat bius dan aku tidak merasakan apa-apa lagi mulai dari kaki sampai perut. Dalam hati aku terus berdoa untuk keselamatku dan bayiku. Akhirnya salah satu tim Dokter mengajakku mengobrol, mungkin karena melihat ekspresi mukaku yang tegang. Selang 15 menit, aku mendengar suara bayi seperti kesakitan dan tidak menangis. Aku juga merasa kalau bayiku sudah keluar. Akhirnya aku bertanya kepada dokter. Dok, ada apa? Dokter hanya menjawab tidak ada apa-apa Bu tenang saja. Tidak berapa lama aku pun mendengar tangisan bayiku dan Dokter memberitahuku bahwa tadi bayiku terlilit tali pusar di lehernya. Pertama kalinya aku melihat bayiku, rasa haru dan bahagia pecah menjadi satu. Akhirnya tepat 9 bulan aku mengandungnya dan bayi perempuanku lahir di tanggal 4, tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan kami. Saat itulah aku menjadi seorang Ibu aku pun langsung memeluk dan menciumnya. Alhamdulillah dia lahir dengan sehat dan selamat tanpa ada kekurangan sesuatu apapun. Namun, perjuanganku di meja operasi belum selesai. Saat proses operasi setelah bayi keluar masih berjalan, aku merasa sangat mual dan pusing. Dokter memberitahu kalau itu merupakan hal yang wajar karena di dalam perutku sedang dibersihkan. Alhamdulillah proses operasi secar berjalan dengan lancar dan aku pun dipindahkan keruang perawatan. Masih melekat sekali dalam ingatan semua peristiwa hamil dan melahirkan itu. Tak terasa sebulan lagi usia bayiku 1 tahun. Perjuanganku menjadi seorang Ibu belum selesai. Aku akan terus berusaha untuk membesarkan dan mendidiknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Komentar